Semakin
lama aku dan dia semakin dekat. Dia pun semakin sering main kerumah. Ya dia
sangat memperhatikan aku. Mungkin aku terlalu berharap banyak. Tapi sungguh dia
memang benar-benar seperti memberi harapan padaku. Sungguh dia sangat tampan,
dia pintar, jago main basket. Yes he is PERFECT. Apakah bisa aku mendapakatkan
orang yang sangat sempurna seperti dia? Ya itu hanya harapan aku saja.
Sekarang
aku merasa hancur. Ya sangat hancur. Dia bercerita bahwa dia menyukai teman ku.
Tak terasa air mata telah jatuh sangat derasnya setelah aku membaca pesan
darinya. Aku tak sanggup membendung air mata ini. Terlalu sakit untuk ku terima
kenyataan ini. Sudah banyak harapan ku gantungkan padanya. Aku sangat kecewa. Kenapa
harus temanku? Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku? Apa dia tidak sadar disini
ada aku yang selalu menyayanginya, menunggunya?
Sejak
kejadian itu dia berubah 180 derajat. Yang biasanya setiap hari dia selalu
menanyakan aktivitas ku, mengingatkan aku supaya makan. Tapi sekarang? Sudah sangat
berubah, bahkan tidak ada lagi pesan darinya. Tapi aku harus (terpaksa)
mengikhlaskan kepergianmu bersama kekasih barumu, ya dia teman baikku. Aku senang
jika melihat kamu bahagia bersamanya. Mungkin aku saja yang terlalu berharap
(penuh) padamu.
Sekarang
kita terpisah tanpa kau tahu perasaanku padamu, tanpa kau tau sakitnya hatiku,
tanpa kau tau sudah berapa banyak air mata yang ku buang hanya untukmu. Kamu tidak
tau itu karena telah di butakan oleh cinta temanku itu. Ya aku bahagia sangat
bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar